Stop Bullying Now!

JAKARTA, KOMPAS – Kekerasan di lingkungan pendidikan masih saja terjadi. Kali ini, siswa kelas 1 SMA Pangudi Luhur Jakarta Selatan, Blasius Adi Saputra (18), dianiaya hingga terluka fisik dan mental oleh seniornya. Tidak seperti korban lainnya yang memilih bungkam, Adi akhirnya melaporkan penganiayaan itu ke polisi.

Tulis KOMPAS 16 Mei 2007.

Ironis memang, di tengah maraknya pemberantasan kekerasan dalam pendidikan seperti di IPDN, para oknum pelajar itu masih saja melakukan ritual kesenangan mereka dengan mengintimidasi, memukul, memalak junior mereka. Bahkan ada rungan khusus eksekusi bagi junior di lingkungan sekolah.

Kekerasan seperti itu merupakan salah satu bentuk dari bullying. Bullying adalah penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok, sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya. Dan peristiwanya, sangat mungkin terjadi berulang.

Bullying dapat dibedakan menjadi tiga jenis tindakan yaitu: fisik, verbal dan psikologis. Pertama, fisik, seperti memukul, menampar, mencubit, mencakar, meludahi, mengancam dan memalak atau meminta dengan paksa apa yang bukan miliknya. Kedua, verbal, seperti memaki, mencela, mengejek, menggosip, menyebarkan rumor, penghinaan ras, mengancam lewat alat komunikasi elektronik, dan teror telepon. Ketiga, psikologis, seperti tidak mengikutsertakan seseorang dalam satu kelompok, mengintimidasi, mengecilkan, mengabaikan, memandang hina dan mendiskriminasikan.

Please Don't Hurt Me!

 Apa yang melatarbelakangi terjadi bullying? Banyak hal, misalkan tayangan kekerasan di televisi, ego orang tua yang menganggap anak laki-laki terlihat gagah kalau sudah berkelahi, keinginan menjadi popular, ingin terlihat garang sehingga orang lain takut padanya, motif balas dendam sudah tertindas, atau ingin mendapat perhatian. Masih ingat kan peristiwa penembakan 32 mahasiswa Virginia Tech oleh Seung-Hui Cho? Mungkin maksud Cho dengan merekam pengakuannya dan ditayangkan di NBC adalah agar para korban bullying seperti dia bisa balas dendam. Tapi kenyataannya, dampak yang diakibatkan lebih parah dari itu. Imigran Korea yang ada di Amerika sebagian merasa dikucilkan, dihina, dilecehkan dan lain sebagainya akibat pengakuan Cho.

Siapa bilang kalau bullying ini adalah trend anak muda sekarang? Bullying ‘cuma’ istilah yang sering dihembuskan beberapa tahun terakhir, tapi konsepnya sudah banyak yang mengeksekusi sejak dulu kala. Bahkan Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta, mengaku pernah menjadi korban bullying semasa sekolahnya. Beliau mengaku pernah mengalami tidak disapa oleh rekan-rekan perempuan di kelasnya, merasa asing dan berdampak tidak ingin sekolah lagi.

Sebagian orang menganggap bullying adalah proses pertumbuhan seorang anak. Tapi coba lihat sekarang, bullying tidak saja hinggap pada anak-anak, dewasa juga. Dampak bagi korban bullying adalah perasaan cemas, tidak PD, takut ingin ke sekolah, penyesalan hidup, meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai akademik, dan tindakan bunuh diri. Bullying juga menurunkan skor tes kecerdasan dan kemampuan analisis para siswa. Sangat mengancam kemajuan bangsa bukan?

 STOP Bullying!

Dilihat dari jenis tindakan, mungkin tidakan fisik yang memberikan bukti sejelas-jelasnya dampak bullying tersebut, seperti pada kasus di awal tulisan ini. Tapi dua tindakan lainnya (verbal dan psikologis) jauh lebih mengancam. Gampang dilakukan dan memberikan efek yang luar biasa bagi korban! Hanya dengn mengejek dan mengucilkan seseorang mungkin bisa berakibat fatal. Coba lihat salah satu contoh kasusnya. Kira-kira setahun atau dua tahun yang lalu saya menonton program Jejak Kasus, seorang siswi ditemukan tergantung di kamar mandi rumahnya, setelah ditelusuri ternyata selama ini dia malu sekali sering diejek oleh teman-teman sekelasnya cuma karena ayahnya penjual bubur di sekolah.

anti bully

 Sadar atau tidak mungkin kita menjadi salah satu pelaku atau korbannya. Masa alalu atau masa kini. Karena bullying juga dapat terjadi secara online atau elektronis atau biasa disebut cyber-bullying, yang menurut Bill Belsey pakar pendidikan Kanada adalah:

Involves the use of information and communication technologies such as e-mail, cell phone and pager text messages, instant messaging, defamatory personal Web sites, blogs, online games and defamatory online personal polling Web sites, to support deliberate, repeated, and hostile behavior by an individual or group that is intended to harm others

Apapun bentuk bullying itu, dan dilihat dari dampak bullying bagi negara, katakan TIDAK sekarang juga. Hentikan bullying!

19 Tanggapan ke “Stop Bullying Now!”


  1. 1 escoret 17 Mei 2007 pukul 4:30 pm

    Hmm,….pie yoh..????
    aku kok jd ngeri2 gimana gitu..!!!!

    Hmm,….mau koment jadi lupa..hehehhe..

    nice post…

  2. 2 junthit 17 Mei 2007 pukul 7:27 pm

    bisa dimulai dari blogger ,
    stop menekan,mencaci,memaki blogger lain!

  3. 3 faiq 17 Mei 2007 pukul 10:31 pm

    Di negara jiran sini juga ada banyak kasus buli di lingkungan sekolah, dan pemerintah lewat sekolah serta jalur lain termasuk website-nya aktif mempromosikan “hentikan dan laporkan kasus buli”.

  4. 4 peyek 18 Mei 2007 pukul 7:59 am

    Ehm… sepertinya sudah mewabah ya… harus ada tindakan tegas dari pihak terkait akan hal ini, mungkin tidak semudah membicarakannya, tapi yang jelas tindakan tegas dan bersifat segera, harus diambil.

  5. 5 Roffi 20 Mei 2007 pukul 5:02 am

    bagaimana peran orangtua yang anaknya menjadi korban bullying? Bila dihubungkan dengan pembentukan karakter anak, menjadi amat penting artinya, orang tua perlu meningkatkan peran serta dalam pembentukan karakter anak dan mematangkan pribadi anak ke arah yang positif, supaya anak ga gampang menyerah dan depresi diperlakukan semena². Ini cuma salah satu solusi.

  6. 6 cakmoki 20 Mei 2007 pukul 2:44 pm

    iya tuh, dimana-mana marak dengan berbagai bentuk dan modus operandi.
    Perlu diajari bela diri nggak ya? Soalnya serba salah, kalo lemah mudah diprovokasi, bisa bela diri orang tua khawatir anaknya jadi tukang gelut, repot.

  7. 7 arezk 21 Mei 2007 pukul 12:53 am

    kaLo pendapat pribadi saya sich…
    HaL kaya gitu kaga bisa dihapus totaL 100%, hanya bisa diminimaLisir doank sampe ke titik terkeciL.
    Sudah jadi watak manusia (yg katanya orang pintar: manusia adaLah hewan berotak&berhati)!
    ApaLagi ditambah tayangan media (khususnya TV) yang berisi kekerasan, kriminaLitas (& other BULL$H!T Things)…

    [pengaLaman.pribadi.jg.semasa.skuL.berasrama.penuh]

    Sekedar pemikiran, adaLah pendekatan dari penanaman budi pekerti, agama, cinta-kasih sesama manusia, yang diimbangi dengan Media Massa yang mengontroL tayangannya.
    [tapi.pesimis.utk.haL.terakhir.karena.pasti.ga'.bisa.di.Indonesia.utk.saat.sekarang.ini]

    C-M-I-I-W
    =SaLam.dr.Jogja=

  8. 8 kangguru 21 Mei 2007 pukul 4:04 pm

    STOP Kekerasan di sekolah apapun, kekerasan cuma perlu di atas ranjang kali…. sorry canda

  9. 9 deking 22 Mei 2007 pukul 7:10 am

    Waduch kok pada ketularan kayak gitu ya?

  10. 10 antobilang 22 Mei 2007 pukul 5:21 pm

    hem….bullying ya? sering lho kita gak sadar sedang melakukannya terhadap orang2 sekitar kita..

  11. 11 ekowanz 22 Mei 2007 pukul 8:36 pm

    kalo gullying sama ga mas :p hehehe….

  12. 12 Suluh 23 Mei 2007 pukul 10:50 am

    Waduh… Perlu intropeksi diri nich…

  13. 13 indra kh 23 Mei 2007 pukul 5:41 pm

    Mengerikan. Setuju dengan Arezk. Beberapa tayangan media, khususnya sinetron televisi yang mempertontonkan kemewahan, pelecehan terhadap pendidik, orang tua, dan pergaulan permisif sangat berperan besar dalam hal ini.

  14. 14 alle 25 Mei 2007 pukul 7:09 am

    #1
    minum obat dulu deh mas pepeng biar gak lupa :P

    #4
    klo dari pihak sekolah, udah ada beberapa lembaga di bawah sekoilah seperti (BP/BK) yang khusus menangani bullying di sekolah, tapi posisinya masih agak lemah. Dan mungkin ada kecenderungan siswa yang kena bullying malas melapor, takut disiksa lebih parah, dan pihak BP/BK cuma menunggu laporan aja

    #5
    yup. keluarga memang menjadi faktor utama

    #7
    setuju!
    mari sama-sama bakar TV kita. Lho??? :D

    #10
    paling yang gak kita sadari adalah tindakan verbal dan psikologis bullying

  15. 15 Metta 22 Juli 2007 pukul 2:07 pm

    Bullying adalah hal paling bodoh dan gila sedunia!!! buat apa kita nyiksa orank yg ga ada salah nya? Kalo cuma mau bales dendam kan bisa lewat teriak2 ato mukul2 bantal& guling.Jd, mulai sekarang, ayo bikin gerakan ANTI BULLYING!!! dan untuk para pem-bully, jgn lupa ya! kalo orang yg kamu siksa tu sakit luar dalem! Untuk stop mem-bully orang, sibuk-in diri kamu biar kamu merasa gak dendam ama org itu. Kalo mo dendam palink ama murid yg nyolot aja. Ayo kita STOP BULLYING!!!!!

  16. 16 ben To bi ca 5 Oktober 2007 pukul 9:28 am

    setuju buat stop bullying !tapi mulai dari sendiri ,soalnya banyak lo yg ga sadar kalo liat temen susah malah ketawa !jangan 2 aku juga?walah ! good for blognya lumayan buat refenensi ,mkch dari wong purbalingga,itu lo tempatnya sumanto(jgn2 sumanto dulu korban bullying juga?)

  17. 17 korbanbully 12 Nopember 2007 pukul 7:09 pm

    Saat ini saya selaku korban bullying sedang mencari semua email dari korban bully yang lain.Awalnya ingin cari via friendster,but,YANG BENER AJA??!!Mau cari mati nampilin data diri korban bully via friendster??!! Sungguh goblok!!
    Karena saya ingin bikin sejenis blog unuk membantu teman2 saya sesama korban bully,itung2 bantu temen2 via blog kan gapapa

  18. 18 Kataku 15 Desember 2007 pukul 1:29 pm

    Stop bullying.Memberi contohlah dengan slalu bertindak sebaik-baiknya. Didik dan bimbinglah anak-anak dengan pasti.
    toek korban bullying, sebaiknya jangan menyimpan dendam krn dapat merugikan diri anda sendiri krn apabila tidak kesampaian anda bisa streees.hadapilah dengan positif thingking ja.

  1. 1 Aku Pulaaaaaang!! « cK stuff Lacak balik pada 19 Mei 2007 pukul 12:11 pm

Tinggalkan Balasan




Prakata

It's not easy to be me. It's not easy to be bloger... :D
Blog, sesuatu yg mengubah hidup saya dari malas menjadi rajin,.. Yap, malas membaca jadi rajin membaca.. Malas menulis (setidaknya sudah mencoba) jadi rajin menulis,...

Salam,
aLLè


Unjuk Gigi