
Awalnya dari postingan singkat Momon, lalu penasaran terhadap jumlah penonton yang berjuta-juta, akhirnya Minggu sore kemarin kami habiskan untuk menonton film ini.
Standar-menikmati-film saya turunkan drastis sebelum menuju bioskop, tidak banyak minum agar tidak sering ke toilet ketika film diputar, dan tidak membeli makanan (popcorn) untuk menemani nonton. Hal tersebut saya lakukan untuk menetralkan hati kecil saya yang menyuarakan film ini sayang buruk, reaksi atas spoiler dan rasa penasaran. Yah, biar gak ganggu aja (melewati beberapa bagian film) klo saya makan atau ke toilet.
Nyatanya? Film ini sangat membosankan untuk ditonton. Dimulai dari opening yang terlalu lama berlanjut pada cerita yang datar. Entah saya habis dirasuki apa bisa jadi ngebet nonton film ini. Padahal inti dari film ini tidak jauh berbeda dengan karya Habbiburrahman sebelumnya, Ayat-Ayat Cinta. Yaitu tentang nafsu menggebu pria — yang iman dan kepriadiannya menjadi panutan temannya — untuk mendapat jodoh sesuai impiannya. Khairul Azzam, 9 tahun berstatus sebagai mahasiswa Al-Azhar University asal Indonesia. Hidup di Mesir dihabiskannya untuk kuliah dan berdagang tempe serta sesekali menjadi koki dadakan pesanan kedutaan. Entah 9 tahun di sana dibiayai oleh negara (beasiswa) atau bukan.
Awal cerita Azzam sangat mengagumi Eliana, anak Pak Dubes yang semok dan smart. Dipaparkan bahwa Eliana pernah kuliah di Perancis dan pernah pacaran dengan bule. Tak sungkan ia meminta french kiss ke Azzam, mungkin sebagai penguat citra bahwa Eliana bergaya kebarat-baratan. Padahal sangat terdengar aneh apabila seseorang ingin memberi hadiah berupa french kiss, seperti memberi kue saja. Tidak lazim, bahkan di kalangan bule.
Muncullah tokoh lain yaitu Furqan. Anak konglomerat yang sedang menyelesaikan S-2 di Cairo Univ. Furqan mengaku menyukai Eliana tetapi ia sudah terlanjur mengkhitbah akhwat lain yang juga sedang menyelesaikan S-2. Ceritapun berlanjut Azzam ingin meminang Anna Altifunnisa, yang kabar dari supir Kedutaan bahwa akhwat itu sangat pintar, agamanya baik, dan cantik — walaupun Azzam sendiri belum pernah bertemu dengannya.
Tidak ada acting yang kuat sehingga cerita Furqan melupakan perasaannya terhadap Eliana entah lenyap kemana, seiring perasaannya menggebu terhadap akhwat yang telah dikhitbahnya yang tak lain adalah akhwat yang sama disukai Azzam: Anna Altifunnisa.
Buang jauh kelogisan Anda dalam berfikir untuk menikmati film ini. Bisa Anda temukan di adegan: Adik Azzam menulis surat untuk kakaknya yang teramat lebay, bisa mobile banking tapi gak bisa internetan, atau cerita Furqon yang entah bagaimana keberadaannya bisa diketahui mafia Miss Italiano. Atau tentang Anna yang bertanya kepada sahabat Malay nya sudah pernah dipinang tanpa basa-basi. Atau syarat persuntingan Anna pada Furqon yang agak keberatan untuk berpoligami tapi sebenarnya ia tak ingin poligami. Dan lainnya yang bisa kita temukan banyak hampir di tiap menit film berjalan.
Kelemahan lain film ini adalah dialog yang panjang lebar nan lebay tanpa esensi, adegan tak penting yang sering bermunculan, teknologi blue screen yang kualitasnya buruk, sponsor yang terang-terangan mengganggu kenyamanan menonton, serta kurangnya ekplorasi keindahan Alexandria.
Oh ya, kata siapa film ini murni plek adaptasi dari novel Habibburrahman? Banyak scene diluar novel yang malah amat menyebalkan untuk dilihat seperti: Munculnya Din Syamsuddin berkomentar basa-basi `ini acara apa yaa?`, Furqon yang membayar hotel dengan kartu mandiri, adegan lambaian tangan 60 detik adiknya Azzam di bandara, dan wartawan infotainment yang menyerbu Eliana dan Azzam di bandara.
Apakah ini film dakwah? Saya rasa KCB 1 adalah film cinta biasa yang memaksakan adanya pesan-pesan agama. Tak jauh beda dengan film-film cinta ABG sebelumnya. Entahlah, saya koq menjadi risih yang katanya film Islami malah cuma menonjolkan cerita harsat ingin menikah. Yup, topiknya tak jauh-jauh dari menikah.
Selamat menonton bagi yang belum menonton. Selamat berkomentar bagi yang sudah menonton.
Mon,. as you wish!
Komentar